Thursday

Melukis = berbisnis???

Akhirnya hari ini 28 Juni 2007, saya berhasil mewujudkan salah satu obsesi saat remaja saya, melukis. Hari ini saya belajar melukis, bersama putri saya Nadya dan pak Roni (Jendral TDA) , dibimbing oleh pak Yassir Malik , suami dari bu Doris Nasution. Ternyata dalam pembicaraan kami dengan pak Yassir tentang dasar2 melukis, saya dapat menyimpulkan bahwa para pelukis hebat dan sukses mempunyai kesamaan dengan para pebisnis hebat dan sukses. Yaitu bahwa :
1. Bakat/potensi seseorang untuk melukis hanya menyumbang 10%, sisanya 90% adalah latihan. Semakin sering seorang pelukis berlatih, maka coretannya semakin matang. Demikian juga halnya dengan para pebisnis sukses, dalam bidang apapun, semakin sering mereka berlatih, jatuh bangun dalam membangun bisnis, semakin matang dan tajam, intuisi dan keahlian bisnis mereka.
2. Beranilah dalam berexperimen, jangan takut gagal. Hasil lukisan kita akan jauh lebih baik dan hidup, jika kita berani menambahkan satu dua detil yang berbeda di beberapa bagian. Demikian juga dalam berbisnis, kita harus berani melakukan experimen, mencoba sesuatu yang berbeda, yang membuat produk atau jasa kita mempunyai nilai lebih, unik dan berbeda dari yang lain.
3. Sejalan dengan The Secret dan Quantum Ikhlas. Bahwa kita harus memperhatikan perasaan kita (feeling) , jika kita ingin sukses dalam mewujudkan impian2 kita. Demikian juga halnya dengan melukis, amatlah sulit untuk melukis, jika kita hanya mengandalkan pikiran kita, melukis harus dimulai dengan memperhatikan perasaan / feeling kita saat itu. Hasil lukisan saya terus terang saja kalah hidup jika dibandingkan dengan lukisan puteri saya Nadya, semua orang memuji warna2 dalam lukisannya yang hidup. Tentu saja demikian karena anak kecil biasanya spontan, tanpa berpikir dalam melakukan sesuatu, hanya mengandalkan perasaannya saja. Dalam berbisnispun kita harus memperhatikan perasaan kita, usahakan agar perasaan dan pikiran kita selalu sejalan dan selaras, sehingga kita jauh lebih mudah dalam menjalankan bisnis kita.

Ke Surga atau Neraka? tidak usah menunggu kita mati.....

Kalimat tersebut diucapkan oleh putri saya, Nadya, pagi ini dalam perjalanan menuju FSRD Untar, untuk belajar melukis dengan pak Yassir Malik. Mengejutkan karena kalimat tersebut diucapkan oleh anak saya yang baru berumur 7 tahun, sekaligus menyadarkan saya akan kenyataan hidup.
Yah, memang benar, kenapa kita mesti menunggu kematian datang, kalau mau mengalami Surga atau Neraka. Sejalan dengan yang diajarkan oleh The Secret dan pak Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas. Surga dan Neraka itu kita ciptakan sendiri dalam kehidupan kita sehari hari. Jika kita selalu menjaga perasaan dan pikiran kita, selalu berusaha untuk berperasaan dan berpikiran positif, dalam menjalani kehidupan kita sehari hari, niscaya kita akan mengalami dan selalu berada di dalam Surga Kehidupan, demikian juga sebaliknya. Jika kita tidak mampu mengendalikan perasaan dan pikiran kita, dan terjebak dalam kondisi negatif, maka nerakalah yang akan kita hadapi dalam hidup kita sehari hari. Dimana Surga dan Neraka itu? Di perasaan dan pikiran kita sendiri. Jadi mau Surga atau Neraka? semuanya tergantung pilihan kita sendiri.