Awal bulan Februari yang lalu, saya baru saja road show mentoring EU (Entrepreneur University) di 5 kota berturut turut dari hari Selasa 29 Januari 2008 – Sabtu 2 Februari 2008. Mulai dari Jakarta, Cirebon, Tegal, Purwokerto sampai terakhir Magelang.

Sampai di Jakarta kembali Senin pagi 4 Februari 2008. Selama 2 hari Senin-Selasa, kerjaan saya cuma tidur saja seharian, badan ini rasanya lelah sekali. Yah bagaimana tidak lelah, mentoring dilakukan 5 hari berturut turut dari jam 7 sampai jam 11 malam, tapi para peserta biasanya tidak semuanya langsung pulang, mereka berkonsultasi dengan saya tentang bisnis mereka, bahkan terkadang sampai jam 3 subuh. Besoknya saya harus segera berangkat ke kota berikutnya, oh ya, because I like to drive, maka dalam road show inipun saya memilih untuk menyetir mobil saya sendiri (untungnya mobilnya sangat nyaman untuk perjalanan jauh).
Apa yang membuat saya mau melakukan road show ini?, walaupun sebagai seorang mentor EU, saya tidak punya kewajiban untuk road show ini, saya bisa saja menolaknya. Bukan masalah honornya yang membuat saya menerimanya, karena honornya tidaklah seberapa. Tapi sejak awal saya menerima tugas sebagai mentor di EU, saya sudah menetapkan ini adalah bagian dari kontribusi saya terhadap masyarakat, ini adalah ibadah, pelayanan. Jika 10% saja dari peserta mentoring yang berubah hidupnya karena sharing saya, itu merupakan kebahagiaan yang luarbiasa bagi saya. Mereka akan berubah dari seorang karyawan menjadi seorang entrepreneur, dari seorang entrepreneur menjadi entrepreneur yang tangguh dan amanah.
Banyak hal yang bisa diceritakan dalam road show ini, tapi ada 2 peristiwa yang amat berkesan dan akan saya ceritakan berhubungan dengan judul diatas. Yang pertama yaitu di Tegal, ada salah seorang peserta, seorang ibu dengan pakaian yang sangat sederhana, datang mendaftar ikut EU dan membayar tunai sebesar 2 juta rupiah dengan tumpukan uang lembaran seribu yang sudah lusuh lusuh. Dan pada waktu dia memperkenalkan diri latar belakangnya didepan kelas, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa tumpukan uang seribuan itu adalah hasil tabungannya dia beberapa bulan di celengan rumahnya.
Yang kedua, di Purwokerto, saya sempat berbincang cukup lama dengan salah seorang anak muda usia 30an tahun. Dan ternyata dia seorang pengusaha hasil bumi dan toko retail dari sebuah desa kecil sekitar 1 jam dari Purwokerto, nama desanya Susukan. Yang luarbiasa adalah anak muda ini beberapa tahun yang lalu pernah menjadi tukang batu, supir truk ayam dan supir metromini di Jakarta, dan saat ini walaupun dia berasal dari sebuah desa kecil yang baru pertama kali saya dengar, tapi dia pernah ikut seminarnya Clemen Chiang (pakar Stock Option Trading dari Singapore) dan Fabian Lim (pakar Internet Marketing dari Singapore) juga dia sudah baca itu buku2 seperti The Secret, Robert Kiyosaki, Donald Trump, dll. Dan yang lebih gila lagi dia baru saja rugi dalam transaksi Forex senilai 50 juta.
Saya sungguh mengagumi dan salut pada semangat dari kedua orang ini, bahkan saya banyak belajar dari 2 orang ini tentang semangat untuk maju. Tidak peduli apapun kondisi mereka tapi mereka tetap mempunyai semangat belajar yang tinggi untuk berubah, untuk lebih maju lagi. Dalam bahasa Mandarinnya di sebut CIA YOU. Maju terus, pantang menyerah. Selamat teman, anda berdua layak dapat bintang, Two Tumb Ups for You!! CIA YOU, CIA YOU!!